BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Semenjak Jepang menyerah tanpa
syarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 maka secara hukum tidak lagi
berkuasa di Indonesia. Hal ini mengakibatkan Indonesia berada dalam keadaan
vacum of power (tidak ada pemerintah yang berkuasa) dan waktu itu dimanfaatkan
sebaik-baiknya oleh bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.
Pada tanggal 10 September 1945
Panglima Bala Tentara Kerajaan Jepang di Jawa mengumumkan bahwa pemerintahan
akan diserahkan pada Sekutu bukan pada pihak Indonesia. Dan pada tanggal 14
September perwirwa Sekutu datang ke Jakarta untuk mempelajari dan melaporkan
keadaan di Indonesia menjelang pendaratan rombongan Sekutu.
Pada tanggal 29 September 1945
akhirnya Sekutu mendarat di Indonesia yang bertugas melucuti tentara Jepang.
Semula rakyat Indonesia menyambut dengan senang hati kedatangan Sekutu, karena
mereka mengumandangkan perdamaian. Akan tetapi, setelah diketahui bahwa
Netherlands Indies Civil Administration (NICA) di bawah pimpinan Van der Plass
dan Van Mook ikut di dalamnya, sikap rakyat Indonesia menjadi curiga dan
bermusuhan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana bentuk perjuangan mempertahankan kemedekaan
Indonesian dari serangan Sekutu dan NICA?
2.
Apa saja yang dihadapi Bangsa Indonesia dalam
menghadapi pemberontakan dari dalam negeri?
C. TUJUAN MAKALAH
1.
Dapat menjelaskan bentuk
perjuangan mempertahan kan kemerdekaan Indoneia dari serangan Sekutu dan NICA,
yaitu:
à Perjuangan secara Fisik
à Perjuangan secra Diplomatik
2.
Dapat menjelaskan contoh perjungan
kemerdekaan dari pemberontakan dalam negeri, yaitu:
à Pemberontakan DI/TII
à Pemberontakan PKI di Madiun
à Pemberontakan Andi Aziz di Makassar
à RMS
à APRA di Bandung maupun di Sulawesi Selatan
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
1.
PERJUANGAN
MENGHADAPI SEKUTU DAN NICA
A. PERJUANGAN SECARA FISIK
1. Peristiwa 10 November di Surabaya
Surabaya merupakan kota pahlawan. Surabaya
menjadi ajang pertempuran yang paling hebat selama revolusi mempertahankan
kemerdekaan, sehingga menjadi lambang perlawanan nasional. Peristiwa di
Surabaya merupakan rangkaian kejadian yang diawali sejak kedatangan pasukan
Sekutu tanggal 25 Oktober 1945 yang dipimpin oleh Brigjen A.W.S. Mallaby.
Setelah mendarat di Surabaya, NICA
berusaha menjadikan Hotel Yamato sebagai markas. Mereka mengibarkan bendera
Belanda, “merah-putih-biru” di tiang puncak hotel Yamato. Hal ini sontak
membuat para pemuda marah. Secara spontan mereka menyerbu masuk hotel dan
menurunkan bendera itu, kemudian merober bagian yanf berwarna biru lalu bendera
pun dikibarkan lagi menjadi merah putih. Sejak saat itu bentrokan antara pejuang dan pasukan Sekutu
terjadi hampir di tiap sudut kota Surabaya.
Pada tanggal 30 Oktober 1945 terjadi
pertempuran yang hebat di Gedung Bank Internatio di Jembatan Merah. Pertempuran
itu menewaskan Brigjen Mallaby. Akibat meninggalnya Brigjen Mallaby, Inggris
memberi ultimatum, isinya agar rakyat Surabaya menyerah kepada Sekutu. Secara
resmi rakyat Surabaya, yang diwakili Gubernur Suryo menolak ultimatum Inggris.
Akibatnya pada tanggal 10 November 1945 pagi hari, pasukan Inggris mengerahkan
pasukan infantri dengan senjatasenjata berat dan menyerbu Surabaya dari darat,
laut, maupun udara.
2. Bandung Lautan api
Terjadinya
peristiwa Bandung Lautan Api diawali dari datangnya Sekutu pada bulan Oktober
1945. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh ultimatum Sekutu untuk mengosongkan
kota Bandung. Pada tanggal 21 November 1945, Sekutu mengeluarkan ultimatum
pertama isinya kota Bandung bagian Utara selambat-lambatnya tanggal 29 November
1945 dikosongkan oleh para pejuang. Ultimatum tersebut tidak ditanggapi oleh
para pejuang. Selanjutnya tanggal 23 Maret 1946 Sekutu mengeluarkan ultimatum
kembali. Isinya hampir sama dengan ultimatum yang pertama. Menghadapi ultimatum
tersebut para pejuang kebingungan karena mendapat dua perintah yang berbeda.
Pemerintah RI di Jakarta memerintahkan agar TRI mengosongkan kota Bandung.
Sementara markas TRI di Yogyakarta menginstruksikan agar Bandung tidak
dikosongkan. Akhirnya para pejuang mematuhi perintah dari Jakarta. Pada tanggal
23-24 Maret 1946 para pejuang meninggalkan Bandung. Namun, sebelumnya mereka
menyerang Sekutu dan membumihanguskan kota Bandung. Tujuannya agar Sekutu tidak
dapat menduduki dan memanfaatkan sarana-sarana yang vital. Peristiwa ini
dikenal dengan Bandung Lautan Api. Sementara itu para pejuang dan rakyat
Bandung mengungsi ke luar kota.
3.
Pertempuran Ambarawa
Pertempuran
Ambarawa terjadi tanggal 20 November sampai tanggal 15 Desember 1945, antara
pasukan TKR dan Pemuda Indonesia melawan pasukan Sekutu (Inggris). Pertempuran
Ambarawa dimulai dari insiden yang terjadi di Magelang pada tanggal 26 Oktober
1945. Pada tanggal 20 November 1945 di Ambarawa pecah pertempuran antara
pasukan TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto melawan tentara Sekutu. Pertempuran
Ambarawa mengakibatkan gugurnya Letkol Isdiman, Komandan Resimen Banyumas.
Posisi Letkol Isdiman kemudian digantikan oleh Letkol Soedirman. Kota Ambarawa
berhasil dikepung selama 4 hari 4 malam oleh pasukan RI. Mengingat posisi yang
telah terjepit, maka pasukan Sekutu meninggalkan kota Ambarawa tanggal 15
Desember 1945 menuju Semarang. Keberhasilan TKR mengusir Sekutu dari Ambarawa
menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjuangan mempertahankan
kemerdekaan RI.
4. Medan Area 1 Desember 1945
Pada tanggal 9 Oktober 1945 tentara Inggris
yang diboncengi oleh NICA mendarat di Medan. Mereka dipimpin oleh Brigjen T.E.D
Kelly. Awalnya mereka diterima secara baik oleh pemerintah RI di Sumatra Utara
sehubungan dengan tugasnya untuk membebaskan tawanan perang (tentara Belanda).
Sebuah insiden terjadi di hotel Jalan Bali, Medan pada tanggal 13 Oktober 1945.
Saat itu seorang penghuni hotel (pasukan NICA) merampas dan menginjak-injak
lencana Merah Putih yang dipakai pemuda Indonesia. Hal ini mengundang kemarahan
para pemuda. Akibatnya terjadi perusakan dan penyerangan terhadap hotel yang
banyak dihuni pasukan NICA. Pada tanggal 1 Desember 1945, pihak Sekutu memasang
papanpapan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudut kota
Medan. Sejak saat itulah Medan Area menjadi terkenal. Pasukan Inggris dan NICA
mengadakan pembersihan terhadap unsur Republik yang berada di kota Medan. Hal
ini jelas menimbulkan reaksi para pemuda dan TKR untuk melawan kekuatan asing
yang mencoba berkuasa kembali. Pada tanggal 10 Agustus 1946 di Tebingtinggi
diadakan pertemuan antara komandan-komandan pasukan yang berjuang di Medan
Area. Pertemuan tersebut memutuskan dibentuknya satu komando yang bernama
Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area.
5. Peristiwa Merah putih di Manado
Kabar tentang proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
tanggal Pejuanggal 17 Agustus 1945 sampai ke Manado. Kabar itu membuat para
pemuda dan pejuang di Manado gembira. Di lain pihak, pasukan sekutu yang
membara serta NICA masuk ke Manado dan berusaha untuk membebaskan pasukan KNIL
yang menjadi tawan perang. Tetapi NICA lalu mempersenjatai para mantan pasukan
KNIL itu. Pasukan itu dijuluki “Pasukan Tangsi Putih”.
Setelah
sekutu resmi menyerahkan Manado ke tangan kekuasaan NICA pada bulan Desember
1945, NICA langsung melakukan pembersihan dengan menangkap para pemimpin
pergerakan perjuangan agar kedudukan mereka di Manado aman. Pasukan KNIL di
Manado tidak seluruh loyal pada NKRI, merekan dijuluki “Pasukan Tangsi Hitam”.
Pasukan
Tangsi Hitam bergabung dengan Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) dan merencanakan
untuk mengusir NICA dari Manado. Tetapi, rencana PPI itu tercium oleh NICA,
akhirnya para pemimpin PPI ditangkap serta
seluruh peluru dan amunisi Pasukan Tangsi Hitam disita oleh NICA.,
pasukan tetap punya senjata tetapi tanpa peluru dan amunisi.
Tetapi
rencan perlawan pada NICA tetap dilaksanakan. Dengan perencanaan yang matang,
serangan ke markas NICA dan Pasukan Tangsi Putih di Teling di lancarkan. dengan
bergerak di malam hari membuat formasi huruf “L”, Pasukan PPI berhasil masuk ke
markas NICA dan berhasil menguasai markas serta membebaskan para pemimpin PPI
yang ditawan NICA. para pejuang merobek bagian biru Belanda sehingga sang merah
putih berkibar di sana. Para pejuang juga berhasil mengalahkan NICA di Tomohon
dan Tondano.
Setelah
kebehasilan itu, para pejuang langsung membentuk pemerintahan sipil dengan B.W.
Lapisan sebagai Residennya kabar kemenangan ini segera di kiri ke Yogjakarta.
Kabar ini juga sekaligus menipis propaganda Belanda bahwa Proklamasi
Kemerdekaan RI hanya berlaku di Jawa saja, dan klaim akan mitos Verbond
Minahasa – Nederland (persahabatan Belanda-Minahasa) yang telah ada sejak 10
Januari 1969 gugur sudah.
B. PERJUANGAN SECARA DIPLOMATIK
1. Perjanjian Linggarjati
Perjanjian Linggarjati dilakukan pada tangga 10
November 1946 di Linggarjati, dekat Cirebon. Dalam Perjanjian ini, Indonesia
diwakili oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir sedangkan Belanda diwakili oleh
Prof. Scermerhorn. Perjanjiantersebut dipimpin oleh Lord Killearn, seorang
diplomat Inggris. Berikut ini beberapa keputusan Perjanjian Linggarjati.
a.
Belanda mengakui secara de facto Republik
Indonesia meliputi Jawa, Madura, dan Sumatra.
b.
Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja
sama membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama Republik Indonesia
Serikat, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia.
c.
Republik
Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia Belanda dengan Ratu
Belanda sebagai ketuanya. Dalam perkembangan selanjutnya, Belanda melanggar
ketentuan Perjanjian tersebut dengan melakukan agresi militer I tanggal 21 Juli
1947.
2.
Perjanjian Renvile
Dalam upaya membantu menyelesaikan sengketa antara
Indonesia dan Belanda maka DK PBB mendesak diadakannya gencatan senjata yang
terjadi 4 Agustus 1947 serta membentuk komisi
tiga Negara (KTN), Negara-negara tersebut adalah :
a) Australia (tunjukan Indonesia), diwakili oleh
Richard Kirby.
b) Belgia (tunjukan Belanda) diwakili oleh Paul Van
Zeelan.
c) Amerika Serikat (netral), diwakili oleh Dr.
Frank Graham.
Atas usul KTN maka pada tanggal 8 Desember 1947
dilaksanakan Perjanjian antara Indonesia dan Belanda di atas kapal Renville
milik AS yang sedang berlabuh di Jakarta.
Delegasi Indonesia terdiri atas PM. Amir syarifuddin, Mr. Ali Sastroamidjoyo, Dr. Tjoa sik len, Mr. Roem, Haji Agus Salim, Mr. Nasrun dan Ir. Djuanda. Delegasi Belanda terdiri atas Abdul Kadir Widjoyoatmojo, Jhr. Van Vredenburgh, Dr.Soumokil, Pangeran Kartanegara dan Zulkarnaen.
Delegasi Indonesia terdiri atas PM. Amir syarifuddin, Mr. Ali Sastroamidjoyo, Dr. Tjoa sik len, Mr. Roem, Haji Agus Salim, Mr. Nasrun dan Ir. Djuanda. Delegasi Belanda terdiri atas Abdul Kadir Widjoyoatmojo, Jhr. Van Vredenburgh, Dr.Soumokil, Pangeran Kartanegara dan Zulkarnaen.
Setelah melalui perdebatan dan permusyawaratan dari tanggal 8 Desember 1947 sampai 17 Juni 1948 maka diperoleh persetujuan Renville. Pokok-pokok isi persetujuan sebagai berikut:
a.
Belanda tetap berdaulat atas seluruh wilayah
Indonesia sampai kedaulatannya diserahkan kepada RIS yang segera dibentuk.
b.
RIS mempunyai pendudukan yang sejajar dengan Negara
Belanda dalam Uni Indonesia-Belanda.
c.
RI akan merupakan Negara bagian dari RIS
d.
Sebelum RIS terbentuk, Belanda dapat menyerahkan
sebagian kekuasaannya kepada pemerintahan federal sementara.
e.
Pasukan RI yang berada di daerah kantong harus
ditarik ke daerah RI
Kerugian-kerugian yang diderita Indonesia dari
perjanjian Renville adalah :
a. Indonesia terpaksa menyetujui dibentuknya Negara
Indonesia serikat melalui masa peralihan.
b.
Indonesia kehilangan sebagian daerahnya karena
garis Van Mook terpaksa harus diakui sebagai daerah kekuasaan Belanda
c.
Pihak republik harus menarik seluruh pasukannya
yang ada di daerah kekuasaan Belanda dan dari kantong-kantong gerilya masuk
daerah RI.
Akibat buruk bagi pemerintah RI dengan
penandatanganan perjanjian ini adalah :
a. Wilayah RI menjadi semakin sempit dan dikurung oleh
daerah-daerah kekuasaan Belanda.
b.
Timbulnya reaksi keras dikalangan pemimpin-pemimpin
RI mengakibatkan jatuhnya kabinet Amir Syarifuddin yang dianggap telah menjual
Negara kepada Belanda.
c. Perekonomian Indonesia diblokade secara ketat oleh
Belanda.
d. Indonesia terpaksa harus menarik mundur
kesatuan-kesatuan militer dari daerah-daerah gerilya, kemudian hijrah ke
wilayah RI yang berdekatan.
Kabinet Amir
syarifuddin jatuh dan digantikan kabinet Hatta. Amir syarifuddin yang kecewa
akhirnya menjadi oposisi kabinet Hatta dan bersama Muso mengobarkan
pemberontakan PKI di Madiun pada bulan September 1948, saat bangsa Indonesia
sibuk menghadapi ancaman agresi militer Belanda II.
3. Perjanjian Roem-Royen
Perjanjian ini
merupakan Perjanjian pendahuluan sebelum KMB. Salah satu kesepakatan yang
dicapai adalah Indonesia bersedia menghadiri KMB yang akan dilaksanakan di Den
Haag negeri Belanda. Untuk menghadapi KMB dilaksanakan konferensi inter
Indonesia yang bertujuan untuk mengadakan pembicaraan antara badan
permusyawaratan federal (BFO/Bijenkomst Voor Federal Overleg) dengan RI agar
tercapai kesepakatan mendasar dalam menghadapi KMB.
Komisi PBB yang menangani Indonesia digantikan UNCI. UNCI berhasil membawa Indonesia-Belanda ke meja Perjanjian pada tanggal 7 Mei 1949 yang dikenal dengan persetujuan Roem-Royen (Roem-Royen Statement) yang isinya antara lain :
a. Belanda harus
pergi meninggalkan daerah Yogyakarta
b. Presiden dan wakil
presiden kembali ke Yogyakarta
c. Panglima
mengembalikan mandatnya kepada pemerintah Presiden Soekarno
4. Konferensi Inter Indonesia
Bersamaan
dengan di adakannya Konferensi Inter Indonesia , di Jakarta berlangsung prtemun
wakil-wakil republic Bijeenkomst voor Federal Overleg (BFO) atau Badan
Permusyawaratan dengan Belanda dibawah pengamatan UNCI. Pertempuran tersebut
menghasilkan penggentian permusuhan kedua belah pihak . Presiden Soekarno
sendiri pada 3 Agustus 1949 melalui radio mengeluarkan Radio untuk menghentikan
tembak-menembak. AHJ lovink, Wakil Tinggi Mahkota Kerajaan Belanda sebagai
Panglaima Tertinggi Angkatan Perang Belanda Indonesia, di hari yang sama,
memerintahkan kepada pasukan untuk meletakkan senjata. konferensi
Inter-Indonesia sendiri berlangsung di Yogjakartapada tanggal 19-22 Juli 1949,
dipimpin oleh Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta.
konferensi
empat hari ini menghasilkan beberapa keputusan, yaitu:
a.
Negara Indonesia Serikat disetujui
dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS) yang berdasarkan demokrasi dan
federalism
b.
RIS akan dipimpin oleh seorang presiden
dan dibantu oleh mentri-mentri
c.
RIS akan menerima kedaulatan baik dan
Republik Indonesia Maupun Kerajaan Belanda
d.
Angkatan perang semata-mata hak
pemerintah RIS
e.
Negara-negara bagian tidak akan
mempunyai angkatan perang sendiri
Pertemuan
ke-dua konferensi Inter-Indonesia diadakan di Jakarta pada 30 Juli 1949, dan
menghasilkan beberapa keputusan yaitu:
a.
bendera RIS adalah sang Merah-Putih
b.
lagu kebangsaan adalah Indonesia Raya
c.
Bahasa resmi RIS adalah Bahasa
Indonesia
Wakil RI dan BFO ber hak memilih Presiden RIS. Negara bagian
yang berjumlah 16 berhak mengisi keanggotaan di Majelis Permusyawaratan Rakyat
Sementara (MPRS). Kedua Majelis ini juga setuju untuk membentuk panitin persiapan
nasional, yang bertugas mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan
pelaksanaan KMB. Selain itu, dibicarakan soal posisi TNI yang menjadi inti dari
pembentukan Angkatan Parang Republik Indonesia
Serikat (APRIS) yang anggota-anggotanya terdiri atas bekas koninklijk
Nederlands Leger (KNIL) dan anggotanya Koninklyeke Leger (KL) akan kembali ke
Belanda. Saat itu, terjadi pembrontakan di berbagai daerah, seperti
pemberontakan KNIL di Bandung, APRA-nya Westerling, Pembeontakan Andi Aziz di
Makassar, dan Pemerontakan RMS.
5. Konferensi Meja Bundar (KMB)
Konferensi Meja Bundar (KMB) merupakan tindak
lanjut dari Perundingan Roem-Royen. Sebelum KMB dilaksanakan, RI mengadakan
pertemuan dengan BFO (Badan Permusyawaratan Federal). Pertemuan ini dikenal
dengan dengan Konferensi Inter-Indonesia (KII) Tujuannya untuk menyamakan
langkah dan sikap sesama bangsa Indonesia dalam menghadapi KMB.
Konferensi Inter-Indonesia diadakan pada
tanggal 19 - 22 Juli 1949 di Yogyakarta dan tanggal 31 Juli sampai 2 Agustus
1949 di Jakarta. Pembicaraan difokuskan pada pembentukan Republik Indonesia
Serikat (RIS). Keputusan yang cukup penting adalah akan dilakukan pengakuan
kedaulatan tanpa ikatan politik dan ekonomi.
Pada bidang pertahanan diputuskan:
Pada bidang pertahanan diputuskan:
a.
Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat
(APRIS) adalah Angkatan Perang Nasional,
b.
TNI menjadi inti APRIS, dan
c.
negara bagian tidak memiliki angkatan perang
sendiri.
KMB merupakan langkah nyata dalam diplomasi
untuk mencari penyelesaian sengketa Indonesia – Belanda. Kegiatan KMB
dilaksanakan di Den Haag, Belanda tanggal 23 Agustus sampai 2 November 1949.
Dalam KMB tersebut dihadiri delegasi Indonesia, BFO, Belanda, dan perwakilan
UNCI. Berikut ini para delegasi yang hadir dalam KMB:
a.
Indonesia terdiri dari Drs. Moh. Hatta, Mr.
Moh. Roem, Prof.Dr. Mr. Soepomo
b.
BFO dipimpin Sultan Hamid II dari Pontianak.
c.
Belanda diwakili Mr. van Maarseveen.
d.
UNCI diwakili oleh Chritchley.
Setelah melalui pembahasan yang cukup panjang,
akhirnya KMB menghasilkan beberapa keputusan berikut:
a.
Belanda mengakui RIS sebagai negara yang
merdeka dan berdaulat.
b.
Pengakuan kedaulatan dilakukan
selambat-lambatnya tanggal 30 Desember 1949.
c.
Masalah Irian Barat akan diadakan perundingan
lagi dalam waktu 1 tahun setelah pengakuan kedaulatan RIS.
d.
Antara RIS dan Kerajaan Belanda akan diadakan
hubungan Uni Indonesia Belanda yang dikepalai Raja Belanda.
e.
Kapal-kapal perang Belanda akan ditarik dari
Indonesia dengan catatan beberapa korvet akan diserahkan kepada RIS.
f.
Tentara Kerajaan Belanda selekas mungkin
ditarik mundur, sedang Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) akan dibubarkan
dengan catatan bahwa para anggotanya yang diperlukan akan dimasukkan dalam
kesatuan TNI.
Pada tanggal 27 Desember 1949 dilaksanakan
penandatanganan pengakuan kedaulatan secara bersamaan di Belanda dan di
Indonesia. Di negeri Belanda, Ratu Juliana, Perdana Menteri Dr. Willem Dress,
Menteri Seberang Lautan Mr. A.M.J. A. Sassen, dan Drs. Moh. Hatta, bersama
menandatangani naskah pengakuan kedaulatan. Sedangkan di Jakarta Sri Sultan
Hamengku Buwono IX dan Wakil Tinggi Mahkota Belanda A.H.J. Lovink
menandatangani naskah pengakuan kedaulatan.
2.
PERJUANGAN DALAM MEMPERTAHANKAN KONFLIK DALAM NEGERI
A. Pemberontakan DI/TII diberbagai daerah. Pada dasarnya walaupun namanya sama, antara
gerakan DI/TII di satu daerah tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan
gerakan DI/TII yang meletus di daerah lainnya, karena masing-masing mempunyai
latar belakang dan pemimpin yang berbeda.
a)
Gerakan DI/TII di
Jawa Barat yang dipimpin oleh SM. Kartosuwiryo mempunyai akar
persoalan militer dan politik yaitu perjanjian Renville antara RI dengan
Belanda serta keinginan mendirikan negara yang berdasarkan Islam. Pemberontakan
yang berlangsung sejak 1949 baru dapat dipadamkan tahun 1962 lewat operasi
Baratayuda dengan siasat Pagar Betis.
b)
Gerakan DI/TII di
Jawa Tengah baik yang meletus di
daerah Tegal-Brebes-Pekalongan yang dipimpin oleh Amir Fatah, maupun yang
meletus di Kebumen yang dipimpin oleh Kyai Mahfudz Abdur Rahman atau Kyai Somo
Langu yang mendapat dukungan dari anggota batalyon 426 di Kudus dan Magelang.
Menghadapi aksi DI/TII di Jawa Tengah, pemerintah membentuk operasi pusat yang
disebut Gerakan Banteng Negara yang diantaranya adalah operasi Merdeka Timur
yang menghancurkan Gerakan DI/TII di wilayah Jawa Tengah bagian
selatan-Tengah.
c)
Gerakan
DI/TII di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh
Ibnu Hajar. Penyebabnya adalah menyangkut rasionalisasi/demobilisasi tentara
oleh Pemerintah di seluruh Indonesia.
Ibnu Hajar alias Haderi bin Umar alias Angli
adalah seorang mantan letnan dua TNI yang kemudian memberontak dan menyatakan
gerakannya sebagai bagian DI/TII Kartosuwiryo. Dengan pasukan yang dinamakan
Kesatuan Rakyat yang tertindas, Ibnu Hajar menyerang pos-pos kesatuan tentara
di Kalimantan Selatan dan melakukan tindakan pengacauan pada bulan Oktober
1950, pemerintah masih memberikan kesempatan kepada Ibnu Hajar untuk
menghentikan petualangan secara baik-baik. Ia dan kesatuannya pernah
menyerahkan diri tetapi setelah menerima perlengkapan, Ibnu Hajar melarikan
diri dan melanjutkan pemberontakannya. Perbuatan itu dilakukan lebih dari satu
kali sehingga pemerintah memutuskan untuk mengadakan operasi. Gerakan perlawanan
baru berakhir pada bulan Juli 1963. Ibnu Hajar dan anak buahnya menyerah. Pada
tanggal 22 Maret 1965 pengadilan militer menjatuhkan hukuman mati kepada Ibnu
Hajar.
d)
Gerakan DI/TII di
Aceh, gerakan ini dipimpin oleh Tengku Daud Beureuh, mantan
Gubernur militer DI Aceh dan Ketua PUSA. Issu sentral yang menjadi penyebabnya
adalah masalah otonomi daerah dan perimbangan pusat dengan daerah. Sedangkan
pemicunya adalah diturunkannya status Aceh dari Daerah Istimewa (setingkat
propinsi) menjadi Karisidenan di bawah propinsi Sumatera Utara. Pemberontakan
yang berlangsung sejak th. 1953 dapat diakhiri th. 1962 melalui Musyawarah
Kerukunan Rakyat Aceh yang salah satunya adalah pemberian amnesti pada Daud
Beureuh.
B.
Penumpasan pemberontakan PKI Madiun Perjanjian Renville yang isinya sangat merugikan
pihak Indonesia, telah menyebabkan jatuhnya kabinet Amir Syarifuddin. Setelah
berhenti dari kabinet Hatta, ia beralih haluan dengan bergabung pada FDR (Front
Demokrasi Rakyat) yang berhaluan sosialis dan menempatkan diri sebagai oposisi
kabinet Hatta.
Kelompok FDR ini dalam upaya merebut kekuasaan, melakukan berbagai cara seperti penculikan dan pembunuhan terhadap lawan politik. Langkah kelompok ini semakin merajalela setelah datangnya Muso dari Sovyet, yaitu dengan terjadinya peristiwa tanggal 18 September 1948 FDR/PKI memproklamasikan berdirinya "Sovyet Republik Indonesia" di Madiun.
Kelompok FDR ini dalam upaya merebut kekuasaan, melakukan berbagai cara seperti penculikan dan pembunuhan terhadap lawan politik. Langkah kelompok ini semakin merajalela setelah datangnya Muso dari Sovyet, yaitu dengan terjadinya peristiwa tanggal 18 September 1948 FDR/PKI memproklamasikan berdirinya "Sovyet Republik Indonesia" di Madiun.
Pecahnya pemberontakan ini ditindaklanjuti
pemerintah dengan mengangkat Kolonel Gatot Subroto sebagai Gubernur militer
daerah Surakarta, Pati dan Madiun, serta Kolonel Sungkono sebagai Panglima
Divisi Jawa Timur untuk melaksanakan operasi militer. Dengan dukungan oleh
rakyat, tanggal 30 September 1948 pemberontakan PKI Madiun bisa dipatahkan,
Muso mati tertembak sedangkan Amir Syarifudin dihukum mati.
C.
Pemberontakan Andi Azis di Sulawesi Selatan
(Makassar)
Kapten Andy Azis adalah bekas perwira KNIL yang
telah diterima dalam APRIS dan bertugas di Sulawesi Selatan. Pemberontakan Andy
Azis terkait dengan rencana pemerintah RIS mendatangkan 1 Bataliyon APRIS ke
Sulawesi Selatan yang saat itu tidak aman karena sering dilanda demonstrasi
baik oleh yang pro maupun yang anti negara federal. Rencana itu ditentang oleh
Andy Azis yang bermuara pada pemberontakan Andy Azis bulan April 1950.
D.
RMS (Rep. Maluku Selatan)
sejak bulan April 1950 yang dipelopori oleh Mr. DR.
Ch. R.S. Soumokil (mantan jaksa agung NIT). Menghadapi gerakan RMS yang
merupakan gerakan separatis, pemerintah berusaha menyelesaikannya secara damai
dengan mengirim misi Dr. Leimena. Karena gagal maka pemerintah menghadapinya
dengan kekerasan senjata melalui ekspedisi militer yang dipimpin oleh Kol. Alex
Kawilarang.
E.
APRA di Bandung maupun Sulawesi Selatan
yang dipimpin oleh Kapten Reymond Westerling pada
bulan Januari 1950. Penyebabnya adalah karena tuntutan Westerling agar APRA
(eks KNIL) yang di Jawa Barat dijadikan tentara Negara Jawa Barat serta
penolakan pembubaran Negara Jawa Barat, ditolak oleh Pemerintah RIS.
BAB
III
PENUTUP
- KESIMPULAN
Setelah kemerdekaan, Belanda hadir kembali di Indonesia dan berupaya
menanjapkan lagi kekuasaannya. Oleh karena itu, timbulah konflik berkepanjangan
antara Indonesia dengan Belanda yang mempengaruhi keberadaan Bangsa Indonesia
yang baru berdiri. Beberapa factor yang menyebabkan terjadinya konflik antara
Indonesia dan Belanda diantaranya :
i.
Sekutu dan NICA melakukan
provokasi dan terror terhadap bangsa Indonesia.
ii.
Timbulnya semangat
antikolonialisme di kalangan rakyat Indonesia
iii.
Belanda melancarkan
agresi militer terhadap wilayah tutorial Republik Indonesia
Dalam kondisi seperti itu, beruntung dunia internasional ikut berperan
menyelesaikan pertikaian di antara keduanya. Di samping itu, sifat nasionalisme
yang dimiliki Bangsa Indonesia dalam setiap perjuangan baik secara fisik maupun
diplomatic. Di beberapa daerah dengan gagah berani masyarakat menghalau
penjajah yang ingin berkuasa di bumi
Indonesia. Rakyat Indonesia dengan penuh semangat dan rasa nasionalisme tinggi
menantang segala bentuk penjajahan. Mereka mempertahankan kemerdekaan yang
telah dicapai dengan mengorbankan jiwa dan raga. Hal ini menjadi tonggak kekuatan Indonesia hingga
digelarnya Konferensi Meja Bundar. Dalam konferensi ini Belanda akan mengakui
kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) pada akhir Desember 1949.
Pada tanggal 27 Desember 1949, dilakukan upacara penandatanganan naskah
Pengakuan kedaulatan RIS di ruang tahta kerajaan Belanda. Upacara ini dihadiri
oleh wakil-wakil dari Belanda - Indonesia
dan bersama-sama menandatangani penyerahan kekuasaan. Peristiwa ini
merupakan akhir dari perjuangan Republik Indonesia untuk meningkatkan
kemerdekaan dan menjadi kemerdekaan DE
JURE Negara RIS.


